Surat Audiensi Warga ke Wali Kota Makassar Belum Dijawab

PENULIS: ANDI ALFATH
Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata 17 Agustus? Mungkin saja upacara bendera, balap karung, atau baris berbaris antara anak sekolah. Tapi hal yang berbeda ditunjukkan ratusan ibu rumah tangga (IRT) di Kecamatan Tamalanrea, Makassar
IRT yang merupakan warga Tamalanrea ini terdiri dari dari Kelurahan Mulabaru, Tamalalang, dan warga perumahan Akasia hingga Alamanda memilih merayakan Hari Kemerdekaan dengan cara lain. Mereka menggelar jalan sehat kolektif sebagai simbol penolakan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Ribuan Langkah, Satu Suara: Tolak PSEL
Pantauan Makkunrai.com, sejak pukul 07.30 WITA, lebih dari 500 warga dari berbagai usia—anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia—turun ke jalan. Dengan pakaian merah putih, mereka bergerak serempak menyerukan penolakan PSEL.
Salah satu warga, Haji Sina, bahkan berdiri di atas kap mobil sambil memegang pengeras suara. Ia berulang kali berorasi:
“Wali Kota yang terhormat, waktunya mi mendengar suara kami! Kami menolak PSEL, ini harga mati. Dewan dengarkan suara rakyatmu!”
Jalan Sehat, Bukan Demo
Ketua RW 05 Mulabaru, Haji Akbar Adhy, menegaskan aksi ini bukanlah demonstrasi, melainkan cara warga menyuarakan keresahan mereka.
“Kami merdeka, tapi perasaan kami belum merdeka. Jalan sehat ini simbol bahwa masyarakat bergerak karena panggilan hati, karena geram dengan program PSEL,” ujarnya.
Menurutnya, aksi ini juga menjadi pesan bagi pemerintah kota maupun pusat agar serius memperhatikan suara masyarakat yang wilayahnya terancam terdampak proyek nasional tersebut.
Surat Audiensi Belum Dijawab
Sebelumnya, Haji Akbar telah menyerahkan langsung surat permohonan audiensi warga kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Namun hingga kini, surat itu belum mendapat balasan.
“Mudah-mudahan segera ditanggapi. Kami hanya ingin keresahan di bawah bisa didengar. Kami yakin, Pak Appi pro rakyat,” tutupnya penuh harap.

