
Makkunrai.com – Dea Geraldine kini berdiri sebagai ikon putri Sulawesi Selatan 2025. Perempuan bernama lengkap Geraldine Nadya Talumewo itu resmi menyandang gelar Miss Universe Sulsel setelah melewati seleksi panjang. Sekarang, ia akan mewakili Sulsel di panggung Miss Universe Indonesia 2025.
Ajang ini diikuti 60 peserta dari berbagai daerah. Seleksi berlapis mengerucutkan jumlah finalis menjadi 30, lalu 15, hingga akhirnya panitia membuka satu slot tambahan untuk 16 finalis.
“Mereka memang mencari yang unik, berbeda, dan benar-benar beragam, sehingga masing-masing peserta punya warna tersendiri,” kata Dea saat konferensi pers di Trans Studio Mall Makassar, Kamis (11/9/2025) malam.
Dea mengaku langkahnya tak selalu mulus. Keraguan sempat menghantuinya, tetapi dukungan orang-orang terdekat justru menjadi bahan bakar keberanian.
“Saya pikir kalau bukan sekarang, kapan lagi. Jadi akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba,” ujarnya dengan senyum lebar.
Karantina Miss Universe Indonesia akan berlangsung pada 16–22 September 2025 di Jakarta.
Untuk itu, Dea sudah menyiapkan diri secara matang, mulai dari menggandeng coach pribadi, menjalani latihan intensif, hingga menggarap sesi pemotretan yang menonjolkan sisi autentiknya.
“Saya ingin menunjukkan siapa saya sebenarnya, bukan sekadar tampilan luar,” tegasnya.
Dea bukan sekadar ratu kecantikan. Jejak akademiknya cemerlang. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMP di Makassar, ia melanjutkan SMA di Jakarta, lalu menuntaskan Master of International Business di Curtin University Singapura. Ia juga mendalami desain di Lasalle College of the Arts Singapura dan Royal College of Art London.
Pengalaman profesionalnya pun berwarna. Ia pernah menjadi Account Executive di Debindo Mega Promo, Interior Designer di Amaira Karya Dharma, hingga mendirikan label fashion pribadinya, KALI.
“Fashion bagi saya bukan sekadar gaya, tapi medium untuk menyampaikan pesan tentang keberanian dan identitas,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Dea aktif di jalur advokasi. Ia pernah bergabung dengan Fempire, organisasi nirlaba yang berfokus pada pemberdayaan perempuan. Dari sana, ia belajar bahwa kecantikan bukan hanya wajah dan tubuh, tetapi juga soal memberi dampak nyata.
“Saya ingin membuktikan, perempuan bisa berdaya dengan caranya sendiri,” katanya.
Dea yang kini berusia 27 tahun memiliki tinggi badan 165 sentimeter. Ia lahir di Makassar, besar di Sulsel, dan kini bermukim di Jakarta. Meski begitu, darah dan budaya Bugis-Makassar tetap lekat. Itulah yang ingin ia angkat dalam panggung nasional.
Ia tengah menyiapkan video promosi yang menampilkan ikon-ikon Makassar, mulai dari Pantai Losari, kapal Phinisi, hingga simbol-simbol budaya khas Sulawesi Selatan.
“Ini kesempatan saya memperkenalkan Makassar dan Sulawesi Selatan ke dunia,” pungkasnya.

