
Ilustrasi perempuan korban Kekerasan Seksual II Pict: AI/Makkunrai.com
Penulis: Solara Lune
Sore itu, sebuah kafe di kota Makassar tampak sepi. Di sudut ruangan yang bernuansa modern, saya dan Rina (bukan nama sebernarnya) duduk berhadapan. Suara mesin kopi berdesis pelan, gelas-gelas beradu seakan berlomba menghampiri tuannya.
Kami memulai percakapan ringan tentang kehidupan sehari-hari. Waktu itu, Rina duduk dengan posisi sedikit membungkuk. Tangannya mulai meremas gelas minuman yang baru saja dihidangkan.
Sesaat tatapannya lurus dan sesekali menoleh kanan kiri seolah memastikan situasi aman. Diujung hembusan nafasnya, Rina mulai bercerita.
Suaranya pelan, beberapa kali terhenti, seperti ada bagian yang masih sulit dilewati.
“Tidak semua perusahaan yang reputasinya baik, karyawannya juga seperti itu,” ucapnya, hati-hati.
Kalimat itu menjadi pintu masuk bagi kisah yang selama ini ia simpan sendirian.
Rina kini berani menceritakan kronologi bagaimana ia mengalami kekerasan seksual di ruang kerja. Ia membuka tabir motif kekerasan seksual di lingkup perusahaan starup yang berlatar belakang teknologi pendidikan (EdTech).
Rina bilang, di perusahaan itu, ia mengalami kejadian yang paling menakutkan seumur hidupnya. Teman kantornya, sebut saja Anwar, rekan kerja yang baru dikenalnya secara tiba-tiba menyampaikan ajakan bernuansa seksual.
“Untuk pertama kalinya, ia tiba-tiba mengajakku tidur bersama dengan tatapan yang menakutkan,” bebernya.
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan cerita. “Saya sangat tidak nyaman waktu itu. Saya risih dan takut,” katanya lirih.
Jari-jarinya kembali bergerak gelisah di atas meja. Ia mengaku, pada saat itu, tekanan yang dirasakan begitu berat hingga sempat memengaruhi kondisi mentalnya secara serius.
“Rasanya seperti keberadaanku ditempat itu sangat tidak aman. Saya takut,” tambahnya.
Walau tak mendapat respon dari Rina, ia menganggap Anwar ancaman dalam kehidupan kerjanya sehari-hari.
Setelah ajakan itu keluar dari lisan Anwar, Rina selalu waspada ketika masuk kantor. “Karena biasa saya dengar Anwar cerita seksis dengan teman-teman penghuni kantor.”
“Yang mengangetkan, semua karyawan kantor yang mendengar ocehan seksis Anwar hanya tertawa. Seolah-olah itu candaan,” tambah Rina.
Selain itu, Rina juga pernah mendapati Anwar mengajak seorang siswi untuk Video Call Sex (VCS). “Namun, alih-alih menegur, pengajar yang kerja disana justru mendiami dan menormalisasi,” beber Rina.
Melapor, Tapi Tidak Didengar
Dalam posisinya saat itu, Rina mencoba bersikap profesional. Ia mengumpulkan bukti, termasuk testimoni korban, dan melaporkannya melalui jalur resmi ke HR.
“Saya pikir kalau ikut prosedur, pasti ada tindakan,” ujarnya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada keputusan tegas terhadap pelaku. Bahkan, menurutnya, sempat muncul wacana untuk hanya memindahkan pelaku ke cabang lain.
Rina menghela napas panjang sebelum berkata, “Kalau dipindahkan, itu bukan solusi. Itu cuma memindahkan risiko ke tempat lain.”
Di tengah situasi tersebut, hal yang paling ia tidak duga adalah minimnya dukungan dari lingkungan kerja atau Viktimisasi Sekunder (pembiaran atau penyalahan korban oleh lingkungan). Alih-alih didukung, ia justru merasa disudutkan.
Ia menunduk cukup lama sebelum melanjutkan.
“Seperti saya yang salah,” katanya pelan.
Beberapa rekan kerja, menurutnya, lebih memilih mempertahankan pelaku dengan berbagai alasan personal. Dalam kondisi itu, Rina merasa suaranya tidak dianggap.
“Yang lain seperti menormalisasi. Saya jadi merasa sendiri,” ujarnya.
Trauma, Bertahan, Lalu Memilih Pergi
Percakapan sempat terhenti ketika pelayan datang mengantarkan pesanan. Rina sedikit tersentak, lalu tersenyum singkat. Senyum yang lebih terlihat sebagai refleks daripada rasa nyaman.
Ia mengaku pengalaman tersebut meninggalkan trauma yang belum sepenuhnya hilang.
“Sampai sekarang saya masih merasa tidak aman,” katanya.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa pengalaman itu memengaruhi cara pandangnya terhadap relasi sosial, termasuk rasa percaya terhadap orang lain.
“Kadang saya memilih menghindar saja,” ujarnya.
Dalam upaya mencari jalan keluar, Rina sempat berkonsultasi dengan tenaga profesional. Ia mencoba memahami apa yang dialaminya dan mencari solusi yang mungkin dilakukan.
Namun pada akhirnya, ia memilih keluar dari lingkungan kerja tersebut.
“Saya merasa itu keputusan terbaik waktu itu,” katanya.
Kini, ia tidak lagi bekerja di tempat tersebut. Meski masih dalam proses pemulihan, ia menyadari bahwa keluar dari lingkungan yang tidak sehat adalah langkah besar.
Menjelang akhir percakapan, suasana kafe mulai lebih ramai. Namun Rina tampak sedikit lebih tenang dibanding awal pertemuan.
Ia mengatakan bahwa berbagi cerita, meski anonim, memberinya sedikit ruang untuk bernapas.
“Setidaknya sekarang saya tidak simpan sendiri lagi,” ujarnya.
Ia berharap ke depan, lingkungan kerja bisa menjadi tempat yang lebih aman, terutama bagi perempuan. Tempat di mana keberanian untuk melapor tidak dibalas dengan tekanan, melainkan dukungan.
“Saya cuma berharap, korban tidak lagi merasa sendirian,” katanya.
Di tengah segala yang pernah ia alami, ia akhirnya lega karena bisa speakup. “Saya bangga karena akhirnya bisa keluar dari situ.”

