Asa dari Ironi Mangrove Tergerus Tambak: Cerita Perempuan Napalakura dan Labunia

Catatan Pemutaran film Blue Forest “Mangrove – Harapan di Tengah Ancaman”

Produsen Pupuk Organik Kompos, Ipda Wisanti. Foto: dok makkunrai.com/tangkapan layar Film Blue Forest “Mangrove – Harapan di Tengah Ancaman”

PENULIS: ANDI ALFATH

Makassar —  Mangrove bukan hanya sekadar tumbuhan biasa, ia menjadi ibu dalam sebuah ekosistem air di pesisir. Kumpulan pohon mangrove menjadi benteng pertahanan pantai dari erosi, menjadi penjaga kualitas air hingga melindungi ekosistem biota laut agar sehat dan berkelanjutan.

Di balik akar-akar yang mencengkeram kuat itu, tersimpan pula potensi ekonomi yang tak sedikit. Namun ironinya, potensi itu kemudian tak terkontrol di tangan-tangan manusia. Bersamaan dengan itu sari-sari kehidupan juga ikut terperas, berdampak panjang pada pelestarian mangrove yang ikut tergerus dari aktivitas ekonomi yang dibangun masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, dari 114 ribu hektare populasi mangrove yang dulu membentang, kini tersisa kurang dari 10 ribu hektare. Sebagian besar telah berubah fungsi menjadi tambak ikan, udang, atau bahan baku arang.

Hal inilah menjadi tema besar dalam seri kegiatan talkshow dan pemutaran film berjudul “Mangrove – Harapan di Tengah Ancaman” yang dibuat oleh Blue Forest Yayasan Hutan Biru memperingati Hari Mangrove Sedunia yang digelar di Rumata’ Artspace.

“Tinggal 10 persen dari kondisi aslinya, dulu 114 ribu sekarang di bawah 10 ribu hektare, sebagian besar jadi tambank,” ujar Direktur Blue Forest, Rio Ahmad selepas pemutaran film, Minggu 27 Juli 2025 malam.

Tambak, Nafkah yang Berujung Ancaman

Tambak-tambak ini menjadi sumber ekonomi atau mata pencaharian masyarakat di berbagai daerah di pulau Sulawesi sejak bertahun-tahun lamanya.
Bahkan lahan tersebut diakui oleh negara karena tanahnya bersertifikat, punya izin Amdal dan petambak membayar pajak. Sehingga aktivitas ini meski merusak mangrove tidak bisa dikatakan ilegal.

“Dari kondisi di lapangan tambak yang tidak dikelola dengan baik tidak akan bertahan lama. Petambak akhirnya mesti membuka lahan baru dan mengorbankan lebih banyak lagi mangrove,” ujar Rio memaparkan fakta yang terjadi selama ini.

Kondisi yang berula ini, menjadikan krisis ekologi yang tak bisa dihindari hingga saat ini.

Asa dari Perempuan Napalakura

Tetapi cercah harapan selalu datang dari tempat-tempat yang tidak terduga. Di Desa Napalakura, Kabupaten Muna, harapan datang dari Anti dan enam rekannya.

Kelompok perempuan ni bergerak memperkenalkan pupuk organik untuk petambak. Mereka memproduksinya melalui unit usaha Rumah Kompos, sebagai alternatif dari pupuk kimia yang selama ini merusak tanah tambak.

Produk ini dijual kepada petambak Napalakura dan daerah-daerah lain melalui unit usaha Rumah Kompos. Lambat laun produk ini menggantikan pupuk berbahan Kimia.

“Kalau pupuk kompos, murah meriah, bahan baku semua ada di sekitar kita. Ilmunya diajarkan oleh Blue Forest (untuk membuat pupuk organik),” jelas Anti.

 “Mangrove tetap kita butuhkan untuk penghalang air pasang, sebab sia-sia pematangnya orang jika dibawa arus tanpa mangrove,” tambahnya.

2.500 Hektare Mangrove telah Hilang di Muna dan Muna Barat


Muna dan Muna Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara, telah kehilangan lebih dari 2.500 hektare mangrove yang berharga. Hutan mangrove yang seharusnya melindungi garis pantai dan menopang kehidupan pesisir kini berubah menjadi tambak dan pemukiman.

“Semoga dengan penggunaan pupuk organik bisa meningkatkan masa pakai tambak yang berbanding lurus dengan pengurangan pembukaan lahan mangrove,” ujar Pendiri Blue Forest, Ben Brown.

Asa dari Kelompok IRT Labunia

Aktivitas pembuatan brownies mangrove. Foto: dok makkunrai.com/tangkapan layar Film Blue Forest “Mangrove – Harapan di Tengah Ancaman”

Selain di Napalukara, cercah harapan juga hadir ibu-ibu rumah tangga di Labunia, Kabupaten Muna.

Dari eksperimen yang tak merusak mangrove, mereka behasil menyulap buah mangrove menjadi dessert brownies yang unik dan menggugah selera. Ini merupakan bagian dari pelatihan Sekolah Lapang yang digagas oleh Blue Forest.

“Semoga menjadi awal untukmenggerakkan ibu-ibu, dan dari sini ibu-ibu bisa lihat kalau mangrove bisa jadi peluang usaha dan sangat layak dikelola menjadi bisnis,” ” ujar Kriya, salah satu ibu-ibu yang membuat brownies mangrove.

Cara pembuatannya-pun cukup mudah, buah mangrove yang telah jatuh dari pohonnya, direndam selama tiga hari kemudian direbus. Teknik ini untuk menghilangkan zat tanim yang cenderung pahit pada buah mangrove. Hasil rebusan kemudian dihaluskan menjadi sejenis adonan bubur yang cocok sebagai pengganti tepung yang biasa di jual di pasar.

Blue Forest di Tengah Upaya Menjaga Mangrove tanpa Usik Nafkah

Dua tokoh perempuan di atas merupakan contoh kecil bahwa pelestarian mangrove dan mata pencaharian warga bisa berjalan bersam.

Ben Brown selaku Pendiri Blue Forest, mengamini kepedulian masyarakat akan lingkungan seperti mangrove yang memang tidak bisa menggunakan cara-cara biasa.

Cara-cara lama cenderung tidak diterima dengan baik oleh warga, karena pelestarian lingkungan sering mereka maknai dengan penghentian atau pergeseran piring nasi mereka. Jurus yang Blue Forest pakai bersama yayasannya melalui pendekatan ekonomi tanpa merusak yang telah ada.

“Jadi sebelum membahas pelestarian alam flora dan fauna, yang dikedepankan terlebih dahulu adalah ekonomi dan masalah sosial, kami berbaur dengan masyarakat, dan berangkat dari sana, kemudian perlahan-lahan kami memasukkan visi dan misi pelestarian lingkungan,” imbuhnya.

Dukungan Pemerintah Daerah Muna

Dukungan terhadap pelestarian mangrove juga datang dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Muna juga berusaha dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan tetap memastikan roda perekomian masyarakat berputar.

Kepala Bidang Infrastruktur Bappeda Kabupaten Muna, Hamiudin, menyatakan bahwa keberlanjutan lingkungan menjadi prioritas dalam setiap perencanaan.

“Pengembangan tambak memang menjadi program pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah di masyarakat. Pola-pola ruang keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan daya dukung lingkungan itu yang kami upayakan untuk terus terjaga,”
ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari keuntungan sesaat, melainkan dampak jangka panjang yang bisa dirasakan oleh generasi berikutnya.

“Kita melihat keuntungan ekonomi bukan hanya 1-2 tahun, tapi bagaimana ke depan sehingga generasi anak-anak kita bisa menikmati juga. Jadi kita berusaha mengesampingkan kepentingan-kepentingan sesaat,” tambahnya.

Dalam hal ini Hamiudin tidak menutup mata terhadap tantangan yang kerap muncul dalam diskusi tata ruang.

“Kalau sudah bicara pengembangan tata ruang, biasanya lingkungan selalu kalah. Sehingga yang selalu kita jaga—ekosistem mangrove yang cukup bagus dan lebat jangan sampai kalah,” tegasnya.

Harapan dari Anak Muda


Semangat pelestarian juga menggema dari generasi muda. Satriani (24), alumni Biologi Universitas Hasanuddin, merasa terinspirasi setelah mengikuti talkshow dan nonton bareng film dokumenter yang digelar Blue Forest.

“Untuk talkshow tadi keren sekali, soal menanam dan melestarikan mangrove dengan tagline Mangrove Mood, menanam mangrove di kepala, materinya sangat menarik. Kita diperlihatkan kondisi langsung di lapangan,” ujarnya penuh semangat.

Satriani yang pernah aktif dalam gerakan bersih-bersih pantai, berharap gerakan konservasi Blue Forest terus meluas.

“Semoga Blue Forest tetap jaya dan lebih banyak lagi jangkauannya untuk melestarikan mangrove,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Scroll to Top