
Ilustrasi korban DARVO (Deny, Attack, Reverse Victim and Offender) II Pict: Makkunrai.com
Penulis: Dian Diku
Fenomena DARVO (Deny, Attack, Reverse Victim and Offender) kian marak diperbincangkan dalam diskursus Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Jennifer Freyd, seorang psikolog dan peneliti asal Amerika Serikat, pada tahun 1997.
Belakangan, istilah DARVO semakin sering digunakan oleh korban kekerasan berbasis gender untuk menjelaskan taktik manipulatif pelaku kekerasan, yaitu: menyangkal perbuatan, menyerang korban, lalu membalik posisi seolah-olah merekalah pihak yang tersakiti.
Pola ini sering sulit dikenali, sehingga korban dan lingkungan sekitar kerap terjebak dalam lingkaran manipulasi emosional yang melelahkan.
Dahlia (bukan nama sebenarnya), seorang korban perempuan yang pernah terjerat pola DARVO. Ia menceritakan bagaimana pengalaman itu berdampak besar pada kehidupannya.
Selama bertahun-tahun, ia terbebani rasa bersalah akibat tindakan pelaku dan merasa harus mengubah diri sendiri agar kekerasan yang dialaminya tidak terulang.
“Dulu, ia bilang ia selingkuh karena saya jelek, ia bilang ia memukul karena saya membuat dia marah, ia bilang dia marah karena saya yang membuat dia marah. Padahal kekerasan itu pilihan pribadi pelaku dan mengontrol emosi itu tanggung jawab pelaku, bukan korban,” ungkap Dahlia.
Kesadaran tentang pola DARVO baru muncul setelah Dahlia mendapatkan pendampingan. Ia menyadari bahwa perasaan bersalah yang selama ini ia tanggung bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan hasil manipulasi pelaku yang terus-menerus.
Pemahaman itu menjadi titik balik untuk keluar dari relasi yang tidak sehat, sekaligus membantunya membangun kembali kepercayaan diri.
Menurut Lusia Palulungan, Founder Yayasan Rumah Mama, pola DARVO bukan sekadar reaksi emosional, melainkan strategi yang kerap digunakan pelaku untuk lolos dari tanggung jawab.
Lusia menjelaskan bahwa DARVO bekerja secara sistematis dan sering kali sulit dikenali oleh korban maupun lingkungan sekitar.
Pelaku biasanya memulai dengan menyangkal tindakan kekerasan, lalu menyerang karakter atau perilaku korban, dan akhirnya membalik narasi agar dirinya terlihat sebagai pihak yang tersakiti.
Dalam banyak kasus, kata Lusia, pola ini membuat korban terjebak dalam lingkaran manipulasi emosional yang melelahkan.
“Dalam banyak kasus, pelaku menggunakan DARVO untuk menghindari tanggung jawab sekaligus mengendalikan persepsi lingkungan sekitar. Korban akhirnya diposisikan sebagai penyebab konflik,” ungkapnya.
Menurut Lusia, taktik ini sering berhasil karena masyarakat masih mudah terjebak pada narasi menyalahkan korban.
Ketika pelaku mengatakan ia melakukan kekerasan karena “diprovokasi”, “dibuat marah”, atau “tidak dihargai”, sebagian orang justru mempercayainya.
Akibatnya, korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik atau emosional, tetapi juga beban psikologis karena merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Ia menegaskan bahwa penting untuk mematahkan narasi tersebut.
“DARVO bekerja dengan memutarbalikkan realitas. Pelaku berusaha menciptakan narasi bahwa korbanlah yang memicu kekerasan, padahal keputusan untuk menyakiti orang lain sepenuhnya berada pada pelaku,” jelas Lusia.
Ia juga menambahkan bahwa kesadaran publik tentang pola ini dapat membantu korban mengenali manipulasi dan mempercepat proses pemulihan.