Riska Yuliana, Pelita Harapan bagi Perempuan dan Anak di Desa

Ilustrasi anime perempuan yang menjadi pelita harapan perempuan dan anak di desa || Pict: AI/Makkunrai.

PENULIS: SOLARA LUNE

Riska Yuliana merupakan salah satu perempuan muda yang terlibat dalam kegiatan literasi di Sulawesi Selatan melalui komunitas Sekolah Literasi Desa.

Ia menjabat sebagai bendahara dan terlibat dalam pengelolaan program serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Riska mulai bergabung pada akhir 2022 setelah mendapat ajakan dari teman kampus. Saat itu, Sekolah Literasi Desa baru kembali aktif setelah sempat vakum.

Ia kemudian bergabung sebagai pengurus dan ikut dalam pengembangan kegiatan komunitas.

“Melihat visi misi untuk bergerak bersama, dan pastinya saya percaya dengan temanku itu makanya memberanikan diri untuk mengambil identitas baru sebagai pengurus komunitas Sekolah Literasi Desa,” ujarnya kepada Makkunrai, Rabu (6/5/2026).

Dalam kegiatannya, Riska terlibat dalam program Pelita Pelosok, yang berfokus pada kegiatan belajar bagi anak-anak melalui kelas akademik dan non-akademik.

Program ini juga berkolaborasi dengan komunitas lain dan berkontribusi pada pembangunan rumah baca di Palempang, Gowa.

Selain itu, terdapat program Ekspedisi Literasi yang menghadirkan metode pembelajaran dengan pendekatan yang lebih variatif bagi anak-anak di wilayah pelosok.

Riska menilai literasi memiliki makna yang lebih luas dari sekadar kemampuan membaca.

“Literasi bukan sekadar tahu baca, tapi jauh dari itu memberikan kemampuan untuk memahami sesuatu. Dan kompetensi ini begitu penting dimiliki oleh siapapun,” katanya.

Dalam pelaksanaan program, ia menghadapi tantangan terutama dalam menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan sumber daya di desa. Namun, hal tersebut menjadi bagian dari proses belajar selama berkomunitas.

Sebagai bendahara, Riska bertanggung jawab dalam pengelolaan serta pelaporan keuangan kepada anggota komunitas. Ia juga terlibat dalam penyusunan ide program dan pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Dalam kerja tim, ia menekankan pentingnya sikap saling menghargai dan keterbukaan antar pengurus.

“Sesederhana tidak ada lagi rasa canggung di antara kami karena respect terbangun satu sama lain. Saling mencari, saling memahami, dan ini mahal menurutku,” ungkapnya.

Riska juga menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan di desa, termasuk dalam proses pengambilan keputusan.

“Memberikan kesempatan kepada perempuan untuk terlibat dalam kegiatan di desa, bukan sekadar jadi pajangan di undangan kepada tokoh perempuan yang nyatanya suaranya terabaikan dalam forum desa,” ujarnya.

Menurutnya, kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh kesempatan dan kemampuan untuk belajar.

“Menjadi pemimpin itu bukan perihal gender, tapi perihal kesempatan dan kemampuan untuk belajar menjadi pemimpin,” katanya.

Ia mengajak anak muda untuk mulai berkontribusi sesuai kemampuan dalam mendukung pengembangan desa.

“Kalau resahki dengan ketertinggalan desa, kalau resahki dengan kegelapan, terima kasih karena sudah resah. Mariki lakukan yang bisa kita lakukan untuk kemajuan desa,” pesannya.

Riska menilai setiap upaya perubahan tetap memiliki arti jika dilakukan secara konsisten.

“Lakukan perubahan sekecil apapun, karena itu tetaplah perubahan,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Scroll to Top